Universitas Binawan Kunjungi UICI, Studi Banding Mengenai Pembelajaran Digital

  • Bagikan

Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) mendapat kunjungan dari Rektor Universitas Binawan, Dr. Ir Illah Sailah pada Jumat (01/07/2022). Kunjungan tersebut dalam rangka studi banding mengenai pembelajaran digital.

Turut hadir mendampingi Illah adalah Kepala Program Studi Bisnis Digital Universitas Binawan Imam Kautsar, dan Dosen Bisnis Digital Universitas Binawan Adnan Kasofi.

Rombongan dari Universitas Binawan itu disambut hangat oleh Rektor UICI Prof. Laode Masihu Kamaluddin, Wakil Rektor bidang Akademik Dr.Eng Jaswar Koto, Wakil Rektor bidang Non Akademik Lely Pelitasari Soebekty, dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Abdul Aziz. Selain itu, hadir juga Dosen Bisnis Digital Hilda Yuliastuti dan Eddy Santoso.

Studi banding tersebut diselenggarakan dalam bentuk diskusi. Rektor UICI, Prof. Laode Masihu Kamaluddin menyampaikan bahwa UICI adalah perguruan tinggi digital. Digital yang dimaksud di sini adalah otomatisasi.

Dengan konsep digital tersebut, UICI sejajar dengan perguruan tinggi di dunia, seperti Universitas Harvard dan MIT.

Sementara itu, Jaswar Koto menambahkan bahwa pembelajaran di UICI menggunakan Artificial Intelligence (AI). Pembelajaran di UICI berbeda dengan pembelajaran jarak jauh yang sekarang marak di Indonesia imbas dari Pandemi COVID-19.

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang sekarang dijalankan oleh banyak perguruan tinggi terlalu banyak menghabiskan kuota internet. Berbeda dengan itu, di UICI hanya dibutuhkan 9 GB untuk satu semester.

Sementara itu Kepala LPPM, Abdul Aziz menjelaskan tentang literasi digital. Di UICI, jelas Aziz, ada enam kompetensi dasar yang harus dimiliki, yaitu literasi teknologi informasi, desain grafis, kreasi konten video, animasi, pengembangan website, dan streaming.

Seusai diskusi, Rektor Universitas Binawan Illah Sailah mengaku senang pihaknya bisa melakukan studi banding ke UICI. Ia terkesan dengan konsep digital yang diusung UICI.

“Senang sekali hari ini bisa berkunjung ke UICI untuk menyerap ilmu tentang digitalisasi. Ternyata di UICI luar biasa sekali, pembelajarannya sudah tidak ada lagi tatap muka,” kata Illah.

Menurut Illah, konsep digital yang diusung UICI ini sangat menarik dan membuka kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai waktu pergi ke kampus.

“Inilah saatnya kita belajar dengan cara yang lain,” lanjut Illah.

Melihat apa yang telah dilakukan oleh UICI, Illah mengatakan bahwa sudah saatnya pemerintah membuka diri dengan hadirnya pendidikan digital. Menurutnya, ke depan dalam regulasi di kementerian harus ada tiga jenis perguruan tinggi.

“Yang pertama adalah kampus tatap muka, seperti yang sekarang kita lihat di berbagai macam daerah. Ada gedungnya, besar, ada dosennya dan mahasiswanya banyak sekali.

Kemudian yang kedua, lanjut Illah, adalah perguruan tinggi dengan konsep Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Yaitu pendidikan yang dilakukan secara jarak jauh tetapi masih mengharuskan mahasiswa untuk tatap muka dalam beberapa kesempatan.

“Yang ketiga mungkin yang seperti ini, ada di UICI ini. Saya rasa ini baru satu-satunya di Indonesia. Ada kampus digital seperti ini,” ungkapnya. (*)

  • Bagikan