Pria Tua di Diagnosa Skizofrenia, Sekarang di Margolaras Pati

  • Bagikan

PATI – Kesederhanaan merupakan kehidupan yang sangat melekat pada pria tua ini. Mulai dari kecil pria tua ini di asuh oleh budenya yang jauh dari tempat orang tuanya, karena orang tuanya tidak mampu lagi mengasuhnya maka diasuh oleh budenya.

Pria tua ini sekolah hanya sampai SMP itu saja tidak lulus karena bude yang mengasuhnya meninggal.

Kesenjangan ekonomi sudah dialami pria tua ini sedari dini, sampai akhirnya pria tua ini bekerja sebagai pengrajin sepatu dipabrik-pabrik untuk menghidupi dirinya sendiri.

Lepas dari cerita tersebut pria tua ini menikah diumur 22 tahun dan memiliki 2 orang anak yaitu 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan yang tinggal dikontrakan kecil bersama keluarganya tersebut, rutin bekerja sebagai pengrajin sepatu ternyata gaji yang diperolehnya tidak bisa untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, sampai akhirnya pria tua ini beralih profesi menjadi pemroduksi kerupuk sekaligus memasarkannya sendiri ke warung-warung yang menerima produknya.

Berjalannya waktu krupuk yang diproduksinya laris dipasaran, tetapi produk yang dibikinnya tidak stabil karena pria tua ini mondok tariqah. Sampai suatu ketika pria tua ini pulang dari pondok tariqah dan beristirahat sebentar dipinggir jalan, alhasil pria tua ini ditangkap satpol PP dan kebetulan pria tua ini tidak membawa KTP, tangan diborgol sesampainya ditempat penampungan borgol dilepaskan lalu dimasukkan dalam sebuah ruangan yang sudah ada orang banyak.

Awal dibawa pria tua ini marah-marah karena dirinya merasa sehat, hanya karena tidak membawa KTP dan marah-marah ketika ditangkap akhirnya pria tua ini divonis paranoid skizofrenia.

Paranoid skizofrenia adalah mengalami gejala seperti curiga atau takut terhadap sesuatu yang tidak nyata, merasa diperintah, dikejar, dan dikendalikan orang lain, serta halusinasi pendengaran.

Skizofrenia adalah istilah yang cukup asing terdengar di telinga orang awam. Penderita Skizofrenia lebih sering disebut “orang gila” karena mereka sering berhalausinasi, jiwanya terganggu dan sering dianggap sebagai akibat kesurupan, guna-guna, atau kutukan.

Karena ini banyak penderita Skizofrenia yang di pasung dan di asingkan dari masyarakat umum setelah melalui berbagai banyak pengobatan tetapi tetap tidak berhasil. Selain itu, karena dianggap akan mengganggu ketenangan masyarakat bahkan keluarganya sendiri.

Karena pegawai tidak menerima alasan dari pria tua ini alhasil pria tua ini tinggal ditempat penampungan tersebut sampai 5 tahun lamanya. Kurun waktu 5 tahun tersebut pria tua ini mendapat perlakuan yang tidak semestinya, kalau tidak mau makan dipukul, tidak minum obat dipukul, alhasil pria tua ini trauma dengan perlakuan tersebut dan menjadikannya divonis skizofrenia.

Setelah 5 tahun ditempat penampungan, dan tempat penampungan tersebut penuh, maka 100 orang dipindahkan ke MARGOLARAS PATI yang mendapat perlakuan sangat baik serta dibekali pekerjaan ketika sudah keluar dari tempat tersebut.

Seperti kegiatan pertanian melatihnya bercocok tanam dan mencangkul kemudian membatik dan juga marawis atau bermain alat rebana, pria tua ini juga mengatakan kalau di MARGOLARAS PATI merasakan kenyamanan serta merasakan dimanusiakan oleh manusia.

Di tempat baru ini pria tua tersebut melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat sehingga tidak membuatnya bosan dengan kehidupan sehari-harinya, setelah 4 bulan di MARGOLARAS PATI rasa trauma pada pria tua ini sedikit menghilang dan sudah komunikatif ketika di ajak berbicara, serta pandai dalam membuat batik dan bermain alat rebana.

PERAN KONSELOR BAGI PENDERITA SKIZOFRENIA DIMARGOLARAS PATI

  • Memberikan bimbingan spiritual yaitu mengajarinya berdizkir, mengajari sholat, mengajari membaca surah-surah pendek, mengajari niat dan mempraktikkan berwudhu.
  • Memberikan motivasi seperti memberinya kata-kata semangat agar lebih membangun kehidupannya tidak bermalas-malasan.
  • Memberinya pengetahuan dan pemahaman tentang semua kegiatan ditekuni
  • Mengajarinya senam dan bernyanyi bersama agar terhibur
  • Mengajarinya berfokus, seperti halnya mengajari agar fokus dengan kata-kata orang yang didepannya.
  • Konselor sangat erat kaitannya dengan penyembuhan mental konseli, kesembuhan mental konseli butuh terapi-terapi spiritual dan juga motivasi yang dapat meminimalisir gangguan mental.

Penulis : Norma Faiza Sari

  • Bagikan