Inilah Alasan Indonesia Diprediksi Sebagai Negara Terakhir Bebas Covid-19

  • Bagikan

Diketahui, kasus covid-19 di Indonesia terus menunjukkan penambahan, Rabu (28/7/2021) bertambah sebanyak 47.791.

Sementara itu, tambahan kasus sembuh sebanyak 43.856 dan kasus meninggal akibat Corona sebanyak 1.824 (selengkapnya lihat grafis..!).

Secara kumulatif sejak Maret 2020 hingga kemarin total positif Corona di Indonesia mencapai 3.287.727. Sementara itu, kasus sembuh kumulatif sebanyak 2.640.676 dan pasien Corona yang meninggal di RI sampai sekarang mencapai 88.659 orang.

Angka kematian akibat virus corona sempat mencatatkan rekor baru pada Selasa(27/7/2021) dengan jumlah 2069. Selama 11 hari terakhir, 16-26 Juli, kasus kematian terus di atas 1.000 kasus, dengan total kematian 14.574 jiwa.

Jumlah itu 1,5 kali lipat lebih tinggi dari 11 hari sebelumnya atau selama kurun 5-15 Juli yang dengan jumlah total orang meninggal terkait Corona mencapai 9.610 jiwa.

Media asing menyoroti penanganan pandemi covid-19 begitu juga organisasi kesehatan dunia (WHO).

Banyak yang memprediksi negara Republik Indonesia (RI) bakal jadi salah satu negara terakhir yang berhasil keluar dari krisis pandemi covid-19 karena tidak memiliki kebijakan strategis dalam upaya pemulihan kesehatan warganya.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa prediksi itu merupakan hal yang menurutnya cukup logis jika dilihat dari situasi pandemi covid-19 yang kini terjadi di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa hanya negara yang sejak awal sudah fokus dengan bidang kesehatan saja yang mampu keluar dari pandemi covid-19 lebih dulu.

Karena negara yang concern dengan kesehatan sejak awal tentu tidak memiliki fokus maupun kepentingan utama lainnya selain mementingkan kesehatan warga negaranya.

“Logisnya dan benar dalam kaitan situasi akhir pandemi ini, negara yang fokus dengan kesehatan ya tentu sudah lebih dulu dia startnya ya,” ujar Dicky, kepada , Rabu (28/7/2021). Melansir dari Tribunjateng.com

Ada banyak negara yang sejak awal pandemi memang telah concern atau fokus pada kesehatan bukan melulu urusan ekonomi dan politiknya.

Negara-negara itu dianggap cukup mampu secara ekonomi, sehingga penerapan sistem penguncian (lockdown) untuk menekan angka penularan virus corona pun tidak terlalu mempengaruhi kondisi perekonomian mereka.

“Dan ini (mereka) bukan dari sekarang (mulai fokus untuk kesehatan masyarakatnya), dari awal, jadi startnya dia sudah sangat jauh di depan,” kata Dicky.

Ia kemudian membandingkannya dengan Indonesia yang dianggap masuk kategori negara yang masih belum sanggup untuk menerapkan lockdown total dan fokus pada kesehatan masyarakatnya.

Hal ini yang ia anggap menjadi alasan logis bahwa Indonesia memang bisa saja menjadi negara terakhir yang keluar dari pandemi Covid-19.

“Kita termasuk negara yang di belakang, sehingga wajar kalau akan terakhir keluar dari situasi pandemi ini,” jelas Dicky.

Hal itu juga mendapat tanggapan dari Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito. Ia membantah bahwa kepentingan politik dan ekonomi menjadi dasar pengambilan keputusan terkait virus corona di tanah air.

Selama ini pemerintah ujarnya, dalam mengambil kebijakan selalu berkaca pada kasus dan prediksi.”Jadi bukan hanya kesepakatan antar kementerian atau lembaga namun juga situasi realnya,” ujarnya melalui pesan WhatApp.

Selain itu Wiku menuturkan, perlu diketahui kondisi covid-19 di tingkat global pun sangat dinamis. Sehingga kebijakan yang berubah-ubah tidak hanya di Indonesia namun juga dunia.

“Jika tidak dilakukan penyesuaian maka efek negatif yang disebabkan akan lebih besar,” jelas Wiku.(*)

  • Bagikan